Kreativitas

Menguak Lagu 'Soli Deo',
Ciptaan Sr. Maria Robertin, SND


Penghayatan semangat dan kasih SND terwujud dalam alunan melodi cinta dan kidung abadi bagi Allah. Batin yang berkobar-kobar dan kekuatan yang lembut menjadi pendorong bagi Sr. Maria Robertin, SND untuk menuangkan hasil refleksinya dalam karya penciptaan sebuah lagu di Roma, 28 Maret 1992.

Berikut ini sekilas refleksi dari Sr. Maria Robertin untuk menguak lebih dalam tentang makna panggilan yang di uraikan pada sebuah lagu bertajuk 'Soli Deo'.

Soli Deo yang berarti 'Hanya Untuk Tuhan' merupakan ungkapan singkat. Namun sarat dengan makna, yang merupakan semboyan hidup Sr.M.Aloysia, pendiri para suster Notre Dame (SND ). Sebuah semboyan yang tidak hanya sekedar slogan indah, tetapi sangat mengagumkan. Soli Deo merupakan wujud dari daya kekuatan Roh Kudus yang mengarahkan dan mengubah hidup menjadi lebih bermakna.

Semboyan ini terus hidup dalam pemurnian motivasi yang mewarnai suatu pilihan dalam pengambilan setiap keputusan untuk menanggapi panggilan mengikuti Tuhan. Bahkan, dia telah menjadi daya kekuatan untuk tetap tekun dan setia. Kekuatan dalam suka cita mewujudkan kehendak Tuhan maupun dalam kebebasan batin, baik di kondisi kuat maupun lemah.

Semestinya, semboyan ini pula yang mengarahkan dan mengubah hidup kita umat beriman untuk secara khusus mempersembahan diri dalam menanggapi panggilan Tuhan sebagai anggota SND di sepanjang zaman maupun dimanapun. Termasuk di bumi Indonesia tercinta ini.

Selain mengandalkan rahmat kasih setia Tuhan yang Maha baik, semboyan ini mendorong kita untuk melestarikan serta menumbuhkan panggilan Tuhan di tengah perkembangan zaman. Apalagi, tidak sedikit tantangan yang harus dihadapi untuk tetap memiliki daya di tengah kehidupan ini baik secara pribadi maupun komunitas.

Kesadaran ini menantang kesiapan hati saya dalam menanggapi panggilan Tuhan sebagai SND. Terutama ketika saya membuat keputusan untuk berani mengabdi seumur hidup dengan menjadi SND, yaitu ketika menjalani masa Tersiat atau persiapan prasetya kekal. Saya terinat pada tahun 1992 ketika saya bersama tiga rekan suster lain diberi kesempatan oleh pimpinan kongregasi untuk menjalani persiapan kaul kekal di rumah induk SND di Roma.

Kegiatan yang boleh kami alami kala itu antara lain adalah dengan mengalami hidup bersama dalam komunitas internasional. Kami berbaur dengan para suster SND dari berbagai Negara, konferensi dari pembimbing, refleksi pribadi, sharing bersama, bimbingan pribadi, serta beberapa kali pergi berziarah mengunjungi tempat-tempat suci dan bersejarah di Roma. Bahkan pada saat terakhir kali di Roma, kami menjalani napak tilas sejarah kongregasi ke Belgia, Jerman, dan Belanda yang merupakan cikal bakal misi SND di Indonesia.

Salah satu refleksi pribadi yang saya buat ketika diajak untuk mendalami spiritualitas konggregasi pada November mengambil tema dari artikel konstitusi : 'Apakah artinya aku menjadi SND? Lebih lanjut saya bertanya pada diri sendiri. Apakah jiwa dan semangat SND juga menjadi daya yang mewarnai hidupku?'

Sungguh luar biasa, Banyak hal yang cukup menantang bagi saya. Tentang bagaimana semangat hidup sederhana dapat dihidupi di tengah moderitas dan kemajuan dunia yang hebat ini. Melalui proses refleksi yang panjang, jawabnya justru saya temukan dalam tubuh SND sendiri melalui semboyan hidup 'SOLI DEO'.

Kata 'SOLI DEO' mengandung makna yang begitu kaya dan dalam. Saya lalu menuliskan pengalaman yang sangat berarti ini dalam buah-buah refleksi dan berulang- ulang kubaca dan kubaca lag . Lalu, muncul dalam benak saya tentang bagaimana supaya buah refleksi ini tidak hilang begitu saja, tetapi juga tetap mempunyai daya dalam hidupku.

Meskipun saya tidak begitu paham dengan ilmu musik dan juga bukan komponis, saya menemukan lirik lagu ketika bersenandung di hadapan Tuhan. Saya menemukan kata-kata lirik lagu ini melalui refleksi dan kemudian ditulis sekaligus dengan notasi nadanya secara sangat sederhana dengan berbekal sedikit kemampuan bermain gitar. Maka terciptalah lagu SOLI DEO dengan alur syair lagunya sebagai berikut :

1. Soli Deo bagi saya bukan suatu kata yang tiba-tiba menjadi milik yang bermakna, tetapi pertama dari kesadaran bahwa keberadaan saya ini karena rahmat cinta Tuhan semata, yang merupakan anugerah, agar hidupku bertumbuh dan berbuah sesuai rencana kehendak-Nya terutama saya juga diutus untuk mencintai yang lemah.

2. Karena hidup ini asalnya dari Tuhan maka perlu dipersembahkan lagi untuk Tuhan, karena itu kalau saya diutus untuk berbakti melayani sesama oleh konggregasi, itupun dilakukan dalam rahmat dan cinta Tuhan, agar karya Tuhan nyata terlaksana.

3 . Solideo sebuah semboyan yang mestinya membuat diri semakin memiliki hati yang bebas, dalam melaksanakan segala tugas. Maka bila mengalami kekagalanpun tidak perlu terlalu cemas, tetapi lebih mempercayakan diri kepada Tuhan tiada batas.

Ya.. .Soli Deo memang sebuah semboyan hidup yang mulia. Hidup hanya untuk Tuhan saja, dalam doa dan karya maupun mencinta, semua tersembah hanya untuk Tuhan. Semoga dengan Perayaan Syukur 75 tahun SND di Indonesia ini, Soli Deo tetap bergema sebagai semboyan hidup yang memiliki daya kekuatan dalam berproses serta bertumbuh dalam panggilan sejati khususnya di Indonesia tercinta ini. Paling tidak, semboyan ini bagi saya sudah menjadi daya untuk tetap setia pada panggilan saya sebagai SND hingga sekarang ini dan memotivasi saya untuk tetap menjadi kekuatan sampai saat Ia memanggilku kembali. Amin

Roma, Tersiat 28 Maret 1992

Sr. Maria Robertin, SND


[1] [2] [3] [4]
 
 

Website counter