Rumah Provinsi Pekalongan

Bermula dari sejarah awal misi SND di Indonesia oleh Provinsi Tegelen yang dimulai pada bulan Agustus 1934, maka muncul gagasan baru untuk mengembangkan Provinsi Tegelen bagi Ibu Provinsial SND di Tegelen. Gagasan tersebut didukung dan dibantu oleh Provinsial Misionaris Hati Kudus Yesus, P.A. Brocken dengan menyampaikan keiginannya untuk pergi ke tanah misi di Pekalongan, Jawa Tengah.

Hal tersebut juga mendapat tanggapan dari Prefek Apostoli di Purwokerto, YM. Mgr. JB. Visser yang menghendaki agar kongregasi hadir ke daerah misi pada perayaan hari Pesta Nama Maria, 12 September 1934. Kesulitan keungan dan tenaga tak luput dari perjalanan dalam mewujudkan rencana tersebut. Namun kebaikan Tuhan menopang hal tersebut.
Tetesan air yang terkumpul menjadi satu akhirnya menjadi saluran air besar. Seiring mengalirnya bantuan demi bantuan, kegembiraan pun semakin bertambah besar dan kesukaran menjadi mengecil. Inilah yang mewarnai keberangkatan lima misionaris pertama dari Tegelen yang diutus ke Pekalongan, yaitu: Sr. Maria Alfonsina, Sr. Maria Irma, Sr. Maria Reginald,
Sr. Maria Godefrieda, dan Sr. Maria Adelberta.
 
Hari Pesta Segala Orang Kudus tahun 1934 menjadi hari perpisahan bagi para misionaris yang ditandai dengan keberangkatan mereka menuju tanah misi melalui Pelabuhan Marseille dengan Kapal Baluran. Selanjutnya, pada 2 November 1934, mulailah pelayaran para misionaris tersebut dengan perjalanan yang memakan waktu tiga pekan melewati Laut Tengah dan Laut Hindia menuju Batavia yang sekarang dikenal sebagai Jakarta. Pada 21 November 1934, lima misionaris tiba di Jakarta dan disambut oleh suster-suster Ursulin yang menjamu, mengurus penerimaan, dan mengatur perjalanan ke Pekalongan.
 
Tempat tinggal pertama para suster misionaris yang dijadikan biara adalah rumah sewa pertama di Herenstraat yang sekarang menjadi Jalan Diponegoro no. 6 Pekalongan. Lokasi rumah kecil tersebut berada dekat sungai supaya mereka bisa beradaptasi dengan cuaca, makanan, bahasa, pergaulan, dan binatang-binatang kecil yang melingkupi kehidupan mereka.

Karya pertama yang ditangani adalah pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Bendan, Pekalongan. Mereka mengalami kondisi yang teramat miskin. Perjuangan dalam meniti karya di tanah misi mendapat banyak bantuan dari suster-suster Ursulin, termasuk juga untuk karya sekolah-sekolah di daerah Pekalongan dan sekitarnya. Karya pendidikan diawali di Purbalingga. Seiring perkembangan karya, misionaris angkatan ke dua dan seterusnya pun mulai berdatangan.

Setelah dua kali pindah rumah sewaan di Herenstraat, muncul gagasan untuk mendirikan Rumah Sakit Misi yang merupakan pengembangan dari Rumah Sakit Bendan. Sebagai karya awal, mereka mencari sebidang tanah dan akhirnya mendapatnya di bagian Barat dari kota, yaitu di Jalan Bengawan yang sekarang beralamat di Jalan Veteran, Pekalongan. Di sana pula kemudian dibangun sebuah rumah sakit yang berdampingan dengan biara.
Perjalanan karya misi tersebut tak luput dari beragam tantangan, antara lain adalah pergolakan dalam masa penjajahan di Indonesia, penahanan di kamp saat penjajahan Jepang, penyitaan hak milik, dan hal lain yang harus mereka hadapi untuk meluaskan dan mewartakan kasih kebaikan Tuhan.

Kehadiran Allah terus menerangi karya Rumah Provinsi dengan tahapan perkembangan sebagai berikut :  

Rumah Sakit Misi Kraton, Pekalongan                    

Berawal dari pembicaraan yang disampaikan oleh Mgr. Visser pada tahun 1937 tentang keberadaan Rumah Sakit Bendan yang tidak memungkinkan lagi untuk diperluas guna memenuhi kebutuhan pasien yang bertambah banyak, maka Sr. Maria Wienand dan Sr. Maria Alfonsina berupaya keras mencari informasi tentang tata laksana dan pencarian tanah untuk rencana pembangunan rumah sakit baru tersebut.

Pada tahun 1939, pembangunan rumah sakit baru yang merupakan suatu proyek misi dimulai pada sebidang tanah yang dibeli dari sepuluh pemilik tanah. Tanah tersebut berlokasi di sebelah barat kota, yaitu di Jalan. Bengawan yang sekarang terletak di Kraton, Pekalongan. Masyarakat selanjutnya menyebut sebagai Rumah Sakit Kraton. Pendanaan pembangunan rumah sakit misi tersebut sebagian besar berasal dari Eropa dengan tanpa bantuan pemerintah.

Pembangunan rumah sakit akhirnya selesai dan pemberkatan rumah sakit dilaksakan pada 28 Januari 1941 oleh Mgr. J.B. Visser, Prefek Purwokerto. Acara tersebut dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Kota Pekalongan dan tamu undangan. Rumah sakit itu diberi nama Rumah Sakit Beatrixstr. Namun masyarakat terlanjur mengenalnya sebagai Rumah Sakit Kraton. Nama rumah sakit sempat diganti menjadi Rumah Sakit Missi sebelum kemudian berganti nama, Rumah Sakit Umum.

Pada 30 September 1940, rumah sakit dipindah ke Kraton dan seluruh pasien mulai dipindah dari Bendan ke Kraton pada 10 November 1940.
Perkembangan rumah sakit semakin pesat dengan bertambahnya jumlah pasien yang berobat. Namun Tuhan berkehendak lain. Pada 11 Agustus 1954, Walikota Pekalongan melayangkan surat pemberitahuan kepada Sr. Maria Wienand sebagai pimpinan dan Sr. Maria Norberta yang menyatakan bahwa rumah sakit beserta seisinya, yaitu gedung bagian depan, pavilyun empat buah, dapur, tempat cucian, dan lain-lain telah diambil alih tanpa persetujuan dari pihak suster oleh Kotapraja Pekalongan.

Hingga saat ini, rumah sakit tersebut menjadi milik Kotapraja Pekalongan. Para suster hanya mendapat izin untuk menempati pavilyun di dekat rumah sakit tersebut yang sekarang menjadi rumah Susteran SND di Jalan Veteran 31 Pekalongan. Secara hukum, hak kepemilikan tanah rumah sakit tersebut masih menjadi milik Suster SND.
Selanjutnya, para suster bekerja di rumah sakit tersebut sebagai pegawai. Namun suasana rumah sakit yang semakin tidak menyenangkan akhirnya membuat para suster berhenti dan mengundurkan diri. Sr. Maria Magdalena menjadi suster terakhir sebelum berhenti dari jabatan sebagai kepala bagian bersalin.

Peristiwa tersebut ternyata tidak menghambat usaha para suster dalam memberikan pelayanan kesehatan. Dengan tekun dalam suka dan duka, para suster berusaha mendirikan rumah sakit kembali. Cita-cita ini akhirnya terwujud pada tahun 1965, yaitu dengan pembangunan sebuah Klinik Bersalin di Jalan Barito No. 5 Pekalongan yang terus berkembang dan kini telah menjadi Rumah Sakit Umum Budi Rahayu.
 
♣ SMP Pius Pekalongan                    

Pada pertengahan tahun 1948, jumlah murid SD yang melonjak menjadi 10 kelas menjadi pemicu niat untuk mendirikan SMP. Niat tersebut terwujud pada tahun 1951 dengan dimulainya pembukaan SMP Pius Pekalongan dengan kepala sekolah Sr. Maria Norberta. Karya pendidikan ini diawali dengan murid berjumlah 10 orang. Mereka menempati gedung di Jalan Progo 16 atau satu kompleks dengan SD Pius Pekalongan.

Pada 30 September 1940, rumah sakit dipindah ke Kraton dan seluruh pasien mulai dipindah dari Bendan ke Kraton pada 10 November 1940.
Perkembangan rumah sakit semakin pesat dengan bertambahnya jumlah pasien yang berobat. Namun Tuhan berkehendak lain. Pada 11 Agustus 1954, Walikota Pekalongan melayangkan surat pemberitahuan kepada Sr. Maria Wienand sebagai pimpinan dan Sr. Maria Norberta yang menyatakan bahwa rumah sakit beserta seisinya, yaitu gedung bagian depan, pavilyun empat buah, dapur, tempat cucian, dan lain-lain telah diambil alih tanpa persetujuan dari pihak suster oleh Kotapraja Pekalongan.

Hingga saat ini, rumah sakit tersebut menjadi milik Kotapraja Pekalongan. Para suster hanya mendapat izin untuk menempati pavilyun di dekat rumah sakit tersebut yang sekarang menjadi rumah Susteran SND di Jalan Veteran 31 Pekalongan. Secara hukum, hak kepemilikan tanah rumah sakit tersebut masih menjadi milik Suster SND.

Selanjutnya, para suster bekerja di rumah sakit tersebut sebagai pegawai. Namun suasana rumah sakit yang semakin tidak menyenangkan akhirnya membuat para suster berhenti dan mengundurkan diri. Sr. Maria Magdalena menjadi suster terakhir sebelum berhenti dari jabatan sebagai kepala bagian bersalin.

Peristiwa tersebut ternyata tidak menghambat usaha para suster dalam memberikan pelayanan kesehatan. Dengan tekun dalam suka dan duka, para suster berusaha mendirikan rumah sakit kembali. Cita-cita ini akhirnya terwujud pada tahun 1965, yaitu dengan pembangunan sebuah Klinik Bersalin di Jalan Barito No. 5 Pekalongan yang terus berkembang dan kini telah menjadi Rumah Sakit Umum Budi Rahayu.  

Rumah Sakit Budi Rahayu Pekalongan

Kelahiran rumah sakit Budi Rahayu berawal dari pengambil alihan rumah sakit misi dengan nama Rumah Sakit Umum “Beatrix” oleh pemerintah Kota Praja Pekalongan pada 1 Maret 1951. Melihat peristiwa tersebut, para suster tidak pantang menyerah dalam pelayanan di bidang kesehatan. Mereka bahkan dengan tekun berusaha mendirikan kembali sebuah rumah sakit.

Cita-cita itu terlaksana pada 12 September 1966 dengan pembangunan sebuah klinik bersalin yang diberi nama Klinik Bersalin “Budi Rahayu”. Klinik yang diberkati oleh Uskup Purwokerto Mgr. Shoemaker, MSC ini berlokasi di Jalan Barito No. 5. Berkat kemauan keras dan semangat tinggi, akhirnya klinik itu berkembang menjadi Rumah Sakit Umum “Budi Rahayu” dan dikukuhkan dengan SK Menkes RI tertanggal 24 Maret 1975.

Membuka simpul-simpul kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat yang membutuhkan mendorong RSU Budi Rahayu semakin meningkatkan pelayanan tahap demi tahap untuk membawa harapan dan penyembuhan bagi sesama yang membutuhkan.
 
TK Santo Yosef Pekalongan

Pendirian TK berawal dari karya Suster-suster Ursulin. Namun perkembangan TK ini terhambat oleh pergolakan dan perjuangan pada awal kemerdekaan, serta raibnya arsip yang hingga kini belum di ketahui. Maka setelah keadaan memungkinkan, TK Santo Yosef mulai ditangani oleh Suster SND pada 1 Agustus 1949. Sr. Maria Ellana diberi tugas untuk mengembangkan dan membangun kembali TK tersebut. Tk Santo Yosef hadir untuk mengembangkan bakat, memupuk rasa sosial ketika bermain bersama,
memperkenalkan lingkungan yang lebih luas dari sekadar lingkungan keluarga, dan mempersiapkan anak-anak masuk SD. Selain itu, penanaman pemahaman terhadap kekudusan dan pencarian transendensi diharapkan mampu membawa anak-anak pada pemaknaan hidup yang lebih mendalam. Hal inilah yang menjadi pusat pengembangan karya pendidikan SND di Tk Santo Yosef yang saat ini dipercayakan kepada Sr. Maria Robertin, SND sebagai Kepala sekolah.
 
SD Pius Pekalongan

Ordo Suster Ursulin mengawali pendirian SD Pius Pekalongan pada 1 Agustus 1939. Selanjutnya, keuskupan Purwokerto mempercayakan kelanjutan karya pendidikan yang telah ditinggalkan oleh Suster Ursulin kepada Suster SND pada 21 Oktober 1947. Adapun nama sekolah tersebut adalah SD Pius A, SD Pius B, SD Santo Yosef A, dan SD Santo Yosef B yang beralamat di Jalan Progo 16, Pekalongan.
 
Ketika Sr. Maria Norberta dan Sr. Maria Emmanuela mengawali karya pendidikan tersebut, murid SD itu berjumlah 250 anak. Memasuki tahun 2006, nama sekolah diganti dan digabung menjadi SD Pius Pekalongan. Memberikan pendidikan terpadu yang mengarah pada kehidupan manusiawi seutuhnya dalam relasi dengan diri sendiri, dengan Allah, sesama, dan dengan segenap ciptaan menjadi salah satu arahan pendidikan Notre Dame menuju transformasi di SD Pius Pekalongan

SMP Pius Pekalongan

Pada pertengahan tahun 1948, jumlah murid SD yang melonjak menjadi 10 kelas menjadi pemicu niat untuk mendirikan SMP. Niat tersebut terwujud pada tahun 1951 dengan dimulainya pembukaan SMP Pius Pekalongan dengan kepala sekolah Sr. Maria Norberta. Karya pendidikan ini diawali dengan murid berjumlah 10 orang. Mereka menempati gedung di Jalan Progo 16 atau satu kompleks dengan SD Pius Pekalongan.

Keteguhan dalam mengemban karya tersebut mendapat berkat penuh dari Allah yang Mahabaik. Sebidang tanah di Jl. Patriot akhirnya sanggup dibeli sehingga berdirilah sebuah bangunan yang siap dipakai dan telah diberkati oleh Uskup Purwokerto Mgr. P.S. Hardjosoemarto, MSC pada 24 Januari 1981. Perkembangan SMP Pius searah dengan pendidikan Notre Dame untuk membawa saksi kabar gembira dengan meningkatkan program-program kolaboratif yang menjamin kelangsungan mutu tinggi pendidikan Notre Dame melalui komitmen, kompetensi, dan dedikasi Notre Dame.

Pastoral Care

Mengarahkan hidup mereka kepada Allah dalam iman sehingga mereka juga boleh mengalami kasih Allah, merupakan perutusan SND untuk hadir di setiap tempat dan setiap saat. Layanan pastoral care yang ditangani oleh SND komunitas Rumah Provinsi Pekalongan adalah sebagai berikut:

a. Mengajar agama di sekolah dan calon baptis.
b. Mengajar persiapan komuni pertama dan persiapan krisma.
c. Sekolah Bina Iman, SEKAMI, WK dan Mengajar Kitab Suci.
d. Pendampingan orang sakit dan lansia.
e. Merawat jenasah.
f. Pastoral keluarga.

Karya sosial

SND komunitas rumah provinsi hadir dengan merengkuh belas kasih tak terbatas melalui karya-karya sosial. Karyan tersebut adalah pendampingan, pengajaran anak jalanan di bawah Jembatan Kaliloji, Pekalongan dan KLM, pengkoordinasian Koperasi Simpan Pinjam untuk Karyawan dan KLM yang bekerjasama dengan mitra SND, kelompok PKK, kunjungan keluarga, dan pendampingan tuna runggu

Dalam kurun waktu 21 November 1934 – 10 Desember 1958, perjalanan misi SND di Indonesia dari SND di Tegelen, Belanda, masih berwujud rumah misi atau distrik. Namun rumah misi ini mulai dijadikan sebuah Rumah Provinsi pada 10 Desember 1958. Perpindahan tersebut ditandai dengan pengumuman melalui pembacaan surat dari Pemimpin Umum SND Roma, Moeder Maria Vera Niess, SND kepada seluruh suster di Indonesia.

Sr. Maria Wienand, SND terpilih sebagai Pemimpin Provinsi, Sr. Maria Xavera, SND - Asissten I, Sr. Maria Norberta, SND – Penasihat II dan Sekretaris, Sr. Maria Petronelli, SND – Pemimpin Rumah. Jumlah suster yang tinggal di rumah provinsi pertama ini terdiri dari tujuh novis, lima suster yunior, dan 13 Suster Kaul kekal.

Lokasi Rumah Provinsi atau Provinsialat SND Pusat yang pertama tidak berubah sejak pertama kali para suster menempati rumah ini sebagai rumah misi yang pertama yaitu di Jalan Bengawan 31 atau sekarang dikenal sebagai Jalan Veteran 31 Pekalongan
Sr. Maria Marga, SND kemudian menjadi suster pertama dari Indonesia yang menjadi Pemimpin Provinsi pada 20 November 1977.
Rumah provinsi telah berpindah sebanyak dua kali, yaitu:

1. Rumah Provinsi di Jalan Bengawan 31, Pekalongan
2. Biara Santo Yosef di Jalan Diponegoro 13, Pekalongan

Selain itu, rumah provinsi juga menjadi rumah pembinaan bagi aspiran, postulant, dan novis sejak 15 Agustus 1953 dengan nama “Rumah Novisiat Santa Rita”. Sejak 7 Januari 2001, rumah novisiat dan postulan berpindah ke Salatiga.
Persatuan dengan Yesus Kristus menjadi bagian dari kehidupan komunitas. Demikian pula persatuan dalam doa untuk para suster yang telah dipanggil Tuhan. Maka berbagai usaha juga ditempuh oleh para suster agar mendapat ijin untuk kepemilikan makam atau kerkop bagi para suster yang telah meninggal dunia yang kini dimakamkan di belakang rumah. Pada 1 November 1987, Pemerintah Daerah Kotamadya Pekalongan mengabulkan permohonan tersebut dan ditandai dengan Perayaan Ekaristi oleh Pastor Sumpono dan pemberkatan makam. Jenazah para suster yang dimakamkan di pemakaman umum pun di pindahkan ke lokasi tersebut.

Setiap langkah kecil sungguh sangat bermakna bagi sejarah rumah provinsi. Rasa syukur pun tersirat bagi kami para generasi penerus untuk berterima kasih kepada para misionaris yang telah begitu ulet, setia, tabah, penuh cinta kasih, dan penuh harapan akan kebaikan Allah yang selalu menyertai perjalanan misi hingga berkembang, maju dan menjadi seperti sekarang ini. Kasih dan kebaikan Tuhan begitu dalam menyertai perjalanan karya di Rumah Provinsi Pekalongan yang berada dalam naungan Paroki Santo Petrus Pekalongan yang sangat mendukung perkembangan SND Provinsi Indonesia khususnya. Dari sinilah awal dari perkembangan provinsi ini, hingga berkembang ke daerah-daerah lain di luar paroki hingga menjangkau keuskupan lain.

”Berkat Tuhan yang istimewa bagi anak-anak kalian!” surat dari pendiri SND Sr. Maria Aloysia tertanggal 28 November 1888 inilah yang mengerakkan SND komunitas Rumah Provinsi Pekalongan untuk terus menjadi berkat dalam mewartakan Kebaikan Tuhan di tengah-tengah gereja dan dunia kita yang satu ini.
Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai Komunitas Rumah Provinsi, silahkan menghubungi :
Suster – suster Notre Dame
Komunitas Rumah Provinsi
Jl. Veteran 31 Pekalongan 51146
Jawa Tenggah Indonesia
Telp 0062 / 0285-423196
Fax. 0062 / 0285- 421551

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai Provinsi alat SND Indonesia silahkan menghubungi :

Suster-suster Notre Dame/ SND
Province Of Our Lady of Good Counsel, Provincial House
Sisters of Notre Dame Province Of Our Lady of Good Counsel
Jl. Veteran 31 Pekalongan 51146 Jawa Tenggah Indonesia
Telp 0062 / 0285-42810 Fax. 0062 / 0285-428410
snd_indo@yahoo.com

Bagian dari Sejarah Rumah Provinsi Pekalongan
Paroki Santo Petrus
Jl. Blimbing No 1 Pekalongan

Sejarah SND Indonesia berawal dari Paroki Santo Petrus, Pekalongan. Berikut ini selayang pandang dari Paroki Santo Petrus Pekalongan yang merupakan cikal bakal dari berawalnya misi SND di Indonesia.
Pada awalnya, Paroki Pekalongan merupakan bagian dari stasi Tegal. Lalu lahirlah Surat Keputusan Gubernur Jenderal tentang perjalanan dinas bagi Pastor Paroki Tegal Romo B. Thien, MSC ke Pekalongan yang ditetapkan sebanyak 12 kali dalam setahun dengan biaya ditanggung pemerintah. Selanjutnya, Romo B. Thien juga menjalankan tugas untuk misi di Pekalongan

Seiring perjalanan waktu, Stasi Pekalongan mulai berkembang dengan adanya peluang untuk mendapatkan tanah dari Kotapraja Pekalongan bagi pembangunan sebuah gereja. Selain itu, Kongregasi MSC juga telah menyiapkan misionaris baru untuk Pekalongan, yaitu Romo Nico Van Oers, MSC yang menggantikan Romo B. Thien, MSC.

Sejak 1 Oktober 1930, Stasi Pekalongan tidak lagi menjadi bagian dari Wilayah Paroki Tegal. Stasi Pekalongan berdiri sendiri dalam bentuk sebuah paroki dengan Pastor Paroki pertama Romo Nico Van Oers, MSC. Paroki tersebut menempati sebuah rumah, di sebelah utara Stasiun Pekalongan. Tarekat suster SND juga mulai masuk ke Pekalongan untuk memulai karya kesehatan dan pendidikan pada tahun-tahun berikutnya.

Perjuangan untuk memperoleh sebidang tanah bagi pembangunan gereja dan pastoran terus dilaksanakan hingga akhirnya mendapat sebidang tanah yang terletak di sebelah Barat Daya Kaliloji. Setelah menerima surat peryataan pembelian tanah secara sah dari gubernur, maka dimulailah pembangunan gereja dengan daya tampung 250 umat pada 6 Juni 1946 di bawah pengawasan Pastor Paroki Romo J. Van Rooyen, MSC.

Impian umat akhirnya terwujud seiring dengan terselesaikannya pembangunan gereja pada Minggu, 15 Desember 1935 dengan puncak perayaan berupa pemberkatan gedung gereja yang baru di Pekalongan oleh Mgr. BJJ. Van Viser, MSC.

Perkembangan iman umat, katekese, imam, dan kaum religius terus mengalami pasang surut dan tidak luput dari perjalanan Paroki Pekalongan. Namun kehadiran gereja tetap sanggup memperkuat persekutuan di antara umat beriman Katolik yang telah dipanggil untuk menjadi pewarta kabar gembira kerajaan Allah di tengah-tengah tantangan dunia untuk membawa sesama kepada hidup yang penuh kelimpahan.

Dinamika perkembangan masyarakat dan umat di Paroki Pekalongan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pembangunan fisik gereja pun terus berkembang dengan beragam upaya renovasi. Pada 1 Mei 2003, renovasi total dari gereja Pekalongan telah usai dan mulai kembali digunakan untuk perayaan misa Natal pertama yang dipimpin Mgr. Julianus Sunarko, SJ, pada 24 Desember 2004. Pemberkatan gereja dilaksanakan oleh Mgr. Julianus Sunarko, SJ pada 24 April 2005 atau bertepatan dengan misa Minggu Paskah.

Mempelopori berdirinya Kerajaan Allah dengan memperjuangkan tegaknya nilai-nilai kemanusiaan melalui komunikasi, kebersamaan dan kerendahan hati serta bekerja sama dengan yang berkeyakinan lain inilah yang menjadi bagian dan harapan bagi Paroki Santo Petrus Pekalongan. Gereja terus bertumbuh dalam rangkulan para gembala umat, yaitu Romo M.B. Sheko Swandi, Pr sebagai Pastor Paroki dan Romo Paulus Bambang Widiatmoko, Pr serta Romo Albertus Tri Kusuma, Pr

Alamat:
Paroki Santo Petrus Pekalongan
Jl. Blimbing No. 1 Pekalongan 51126
Tel. 0062 / 0285 – 421039


http://stpetruspekalongan.blogspot.com

GEREJA LAMA

GEREJA BARU


 
 

Website counter