SND Houses / Komunitas - Komunitas SND

Komunitas SND Sasi, Kefamenanu
 
Wilayah Sasi, Atambua terletak di Desa Fatuknutu, Paroki St Antonius Padua, Kefamenanu–Timor, Kabupaten Timor Tengah Utara ( T.T.U. ) dan termasuk ke dalam wilayah Keuskupan Atambua. Komunitas ini merupakan bagian dari Komunitas Stella Matutina Kefamenanu.
 
Karya SND di wilayah tersebut terwujud  atas permohonan dari Pastor Paroki St. Antonius Padua,  P. Antonius Razzolly, OFM Conv karena kurangnya tenaga pengajar  di sekolah yang bernaung dalam yayasan milik Kongregasi OFM Conv maupun asrama milik paroki.
 
Upaya untuk menanggapi karya di wilayah tersebut sekaligus merupakan wujud keluasan karya perutusan yang mengalir dalam tubuh SND. Selanjutnya, Sr. Maria Kostka, SND dan Sr. Maria Richardi, SND diutus untuk mengawali karya tersebut sejak 13 Februari 2005.
 
Pada tahun 2006, karya pelayanan mulai berkembang dengan pembukaan Sekolah Menengah Atas Kejuruan dengan nama SMAK Fides Quevens Intelektum (FQI). Sekolah tersebut merupakan perwujudan kerjasama dari tiga tarekat, yaitu Tarekat OFM Conv, SND, dan Bruder Budi Mulia yang juga dibantu oleh kaum awam. SND tidak sekadar hadir sebagai pengajar, tetapi turut menangani pelayanan di asrama putri dengan dibukanya tiga buah asrama  untuk SMAK.
 
Berpusat kepada Allah yang Mahabaik dan Penyelenggara, untuk menanamkan pemahaman akan yang kudus dan mencari transendensi yang akan membawa SND pada suatu makna hidup yang lebih mendalam, menjadi salah satu prinsip bagi kehadiran komunitas ini di daerah Sasi, Atambua.

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai mengenai karya Komunitas SND di Sasi, Kefamenanu
silahkan menghubungi :

Sr. Maria Kostka, SND
Suster – suster Notre Stella Matutina
Paroki Gereja Santa Theresia
Kefamenanu, Timur NTT 85611 Indonesia
Telp 0062 / 0388 – 31471


Biara Santo Agustinus Purbalingga

Kedatangan misionaris tahap ke dua yang terdiri dari Sr. Maria Wienand, Sr. Maria Florida, Sr. Maria Emanuela, Sr. Maria Norberta, dan Sr. Maria Petronelli menandai pembukaan karya SND di Purbalingga. Biara Purbalingga ini merupakan rumah pertama yang di miliki oleh SND dan bergerak di bidang pendidikan, pastoral, pendampingan anak-anak terlantar dan asrama yang merupakan karya sosial SND di era tahun 1936.

Kehadiran SND sekaligus menjadi pelayanan rintisan di Purbalingga. Apalagi Kota Purbalingga masih berupa stasi yang menempati sebuah rumah pemberian dari Belanda. Rumah ini menjadi cikal bakal dari pendirian gereja yang saat ini dikenal sebagai Gereja St. Agustinus Purbalingga untuk pelaksanaan karya misi.

Karya awal yang ditawarkan oleh Prefek Purwokerto, Mgr. Visser berupa pelayanan di Sekolah Dasar Purbalingga yang sejak awal pendiriannya berkarya di bidang pendidikan umum swasta. Sekolah tersebut bertujuan untuk memberikan pendidikan Belanda. Separuh dari jumlah murid kala itu harus merupakan keturunan Eropa dan sisanya adalah anak-anak pribumi.

Pada tahun 1936, jumlah murid berkurang hingga hanya tersisa 50 anak. Maka lembaga pendidikan memutuskan untuk menyerahkan sekolah kepada pihak misi dengan tujuan agar sekolah dapat terus berjalan. Mula-mula sekolah di tawarkan kepada pihak Zending, tetapi tidak mendapat tanggapan. Selanjutnya mereka menghubungi Prefek Purwokerto, Mgr. Visser yang kemudian berunding dengan Suster SND. Sekolah itu pun kemudian diambil alih menjadi bagian dari misi SND yang pertama pada bidang pendidikan di Pulau Jawa.

Berbagai tantangan dan gejolak perjuangan mewarnai perjalanan karya misi di Purbalingga. Namun tekad bulat untuk mewartakan kebaikan Tuhan kepada sesama mengerakkan SND dalam tiap langkah perjuangan misi. Karya pendidikan SND pun terus berkembang sampai saat ini dengan lahirnya TK Pius, SD Pius, SMP Boromeus, Asrama SMP Boromeus, Poliklinik Panti Rahayu Danaraja dan kegiatan pastoral care lainnya.

Dengan perantaraan Santo Agustinus yang menjadi pelindung biara dan pestanya dirayakan setiap tanggal 28 Agustus, ungkapan kasih Allah untuk mentransformasikan Allah yang berkarya dalam dan melalui sesama menjadi persembahan terbesar dari karya kerasulan di biara ini.
Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai karya Biara Santa Agustinus, silahkan menghubungi :

Sr. Maria Florida, SND
Suster-suster Notre Dame Santo Agustinus
Jl. Let. Jend. S. Parman 3
Purbalingga 53316
Jawa Tengah Indonesia
Telp 0062 / 0281-891017


Novisiat SND, Salatiga

Dilatarbelakangi karya kerasulan gereja yang dipercayakan kepada suster SND yang semakin berkembang sedangkan tenaga para suster misionaris kian menurun, maka Sr. Wienande sebagai pemimpin setempat berusaha mencari jalan keluar. Penurunan tenaga suster misionaris terutama akibat faktor usia dan bantuan dari Eropa sudah tidak mungkin diharapkan karena mereka pun telah kekurangan tenaga muda.

Kemungkinan yang dapat ditempuh adalah dengan membina sendiri calon misionaris dari putri-putri Indonesia. Langkah awal yang dilakukan adalah dengan mengusulkan pembukaan rumah pembinaan, yakni novisiat di Kota Pekalongan, Jawa Tengah. Inisiatif ini memeroleh dukungan dari Pemimpin Pusat Kongregasi SND, Uskup Purwokerto, Mgr. W. Schoemaker, MSC, dan Romo Paroki Pekalongan, Pastor Zeegers, MSC.

Impian tersebut menjadi kenyataan dengan pembukaan novisiat di Jl. Bengawan
31 Pekalongan yang sekarang menjadi Jl. Veteran 31 Pekalongan pada hari raya Maria  diangkat ke surga, 15 Agustus 1953.

Peminat pertama yang sudah menanti dengan setia hari bersejarah untuk masuk postulan  adalah Rosaline Kasminah (Alm. Sr. Maria Gaudensia, SND) Perempuan asal Delangu ini sempat bekerja di Rumah Sakit Umum Pekalongan bersama Sr. M. Magdalena.

Pada 22 Agustus 1953, Sr. M. Wienande menawarkan calon untuk masuk Novisiat. Panggilan berkembang dengan kedatangan postulan kedua: Oey Hok Bwee/Julia Marganingsih Wiguno dari Pekalongan yang sekarang bernama Sr. Maria Marga, SND, dan postulan ketiga: Tjhie Yang Nio (sekarang Sr. Maria Laurensia, SND)  dari Purbalingga.

Penyelenggaraan Ilahi kiranya memegang peranan penting bagi perkembangan Novisiat SND. Hingga kini calon postulan terus berdatangan dari segala penjuru Indonesia.

Novisiat menjadi wadah pembinaan dasar sekaligus kekuatan dasar dalam rentang perjalanan panggilan menuju saat terakhir. Wadah ini tidak sekadar simbol pembentukan untuk jenjang waktu tertentu. Maka fundamen yang kuat tetap menjadi milik setiap pribadi yang telah mengenyam pembentukan selama
masa Novisiat. Komitmen inilah yang perlu terus-menerus diperbarui agar kesaksian kita sebagai religius tidak mundur atau menipis penghayataannya di tengah jalan.

Sepanjang jalan dalam sejarah, novisiat telah dilingkari penyelenggaraan Ilahi melalui aneka suka dan duka serta pasang surut panggilan bagi Tarekat SND. Dalam rentang waktu 56 tahun, novisiat berjalan dalam terang Ilahi untuk membuahkan kehidupan baru bagi pewartaan kebaikan Allah. Gerakan hati yang dalam dari para pendahulu yaitu suster misionaris dari  Belanda telah menghadirkan mimpi yang hidup dalam sejarah Kongregasi SND di Indonesia.

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai Novisiat, silahkan menghubungi :

Sr. Maria Kristiana, SND
Novisiat Suster – suster Notre Dame
Jl. A. Yani 92 HM Salatiga 50724
Jawa Tengah, Indonesia
Telp 0062 / 0298 – 322978



  [1]   [2]   [3]   [4]   [5]   [6]   [7]  
 
 

Website counter