SND Houses / Komunitas - Komunitas SND

Biara Miryam, Jakarta Timur

Pada masa kini, Suster-suster Notre Dame, keluarga religius wanita yang bersemangat Maria, melayani gereja di seluruh dunia dalam bidang pendidikan dan karya-karya lain. Bersama rekan kerja awam, mereka tetap menjadi pembawa harapan dan sukacita serta memberikan kesaksian akan kebaikan Tuhan dan Penyelenggaraan Ilahi-Nya. Dengan maksud inilah Komunitas Miryam dibentuk.

Bagi para suster yang masih menempuh study, komunitas ini disebut sebagai komunitas student sejak 5 Februari 1971. Selain itu komunitas ini juga mempunyai kerasulan untuk ikut ambil bagian dalam karya gereja setempat dengan pastoral care antara lain berupa pengajaran calon baptis, komuni pertama,  bina iman anak, kunjungan keluarga dan orang sakit serta meninggal dunia, legio Maria, pendampingan Mudika, serta kegiatan wilayah/lingkungan lainnya. Hal tersebut dilaksanakan pada hari luang kuliah.

Komunitas ini hadir  di Jl. Otto Iskandardinata 1/2A, Jakarta Timur, yaitu di rumah yang dibeli dari keluarga Thio sejak September 1970. Tetapi keberadaan rumah ini masih menyisakan masalah dengan penghuni dari keluarga Thio yang masih menempati rumah itu. Akhirnya pada 25 Maret 1971, rumah itu diresmikan menjadi Biara dengan nama Biara Miryam oleh Romo Paroki P. Siswa, SJ  pada Pesta Maria. Adapun suster pertama yang tinggal di komunitas ini adalah Sr. M. Yasinta, SND dan Sr. M. Kanisia, SND.

Membentuk pribadi-pribadi yang terampil dan berkomitmen untuk bersama-sama berjalan di dalam harapan sebagai saksi-saksi dan katalisator yang bertanggung jawab memelihara segala ciptaan Allah serta demi keadilan dan kedamaian terutama bagi mereka yang tersingkir dari masyarakat. Visi inilah yang mendasari para suster student di komunitas ini untuk semakin maju melalui perutusan mereka dalam mengembangkan karya kebaikan Allah di dunia kita yang satu ini.

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai karya Biara Miryam, silahkan menghubungi :

Sr. Maria Lina, SND
Suster – suster Notre Dame Miryam
Jl. Ottista I / 2 A Jakarta Timur
13310 Jawa Barat, Indonesia
Telp 0062 / 021 – 8194842


Biara Wisma Cinta Sesama Marganingsih

Terdorong oleh rasa kasih yang mendalam terhadap sesama yang menderita, muncullah gagasan untuk mengulurkan tangan dengan membuka Wisma Cinta Sesama di Jl. Gambiran No. 5, Rembang pada tahun 1970. Wisma yang dinamakan “Panti Asuhan Marganingsih” ini menampung anak-anak terlantar. Marga berarti jalan sedangkan Ningsih dimaknai sebagai cinta kasih.

Cinta kasih pula yang mendorong para suster SND untuk menolong, memelihara, dan terutama mendidik anak-anak asuh. Tujuan awal dari pendirian panti tersebut adalah:

♣ Menyelamatkan anak-anak yang terlantar
♣ Membantu pemerintah dalam bidang pendidikan mental dan moral.
♣ Mendidik dan membimbing anak-anak agar dapat menyumbangkan sesuatu yang berguna bagi nusa dan bangsa.

Panti Asuhan Marganingsih diakui secara resmi pada 21 November 1972 yang selanjutnya diperingati sebagai hari peringatan ulang tahun panti.

Pelayanan para suster terhadap anak-anak semakin berkembang. Meskipun tak luput dari segala pertentangan maupun penolakan dari masyarakat setempat. Kebaikan Tuhan mengalir dalam karya ini dengan mendapatkan hadiah sebuah rumah dari keluarga Oei Ing Hwai / Dr. Maryono yang terletak di Jalan Raya No. 105 Lasem .

Pelayanan dan perjuangan para suster dalam mengasuh anak-anak terlantar semakin diakui masyarakat sekitar. Pengembangan karya keterampilan yang dibuka untuk umum ternyata dapat membuka cakrawala masyarakat terhadap karya SND.

Pada tahun 1986, penghargaan dan pengakuan dari Pemerintah Indonesia di berikan kepada panti ini. Perluasaan karya sosial ini masih berlangsung dengan mendapat lagi sebuah hadiah rumah dari Bapak Budi Wiyono di Jalan Raya No. 78 Lasem. Perkembangan selanjutnya, rumah pertama Jl. Gambiran No. 5 Rembang dijual dan panti asuhan dibagi dua, yaitu menjadi  Panti Asuhan Putera di Jalan Raya No. 78 Lasem dan Panti Asuhan Puteri di Jalan Raya no. 105 Lasem.

Keseluruhan warga Panti Asuhan “Marganingsih”:
Anak asuh  Putera: 38 anak
                  Puteri: 48 anak
karyawan / wati: 8
Pendamping / pembina : 18
Suster: 7

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai karya Panti Asuhan kami, silahkan menghubungi :

Sr. Maria Vinsentin, SND
Suster – suster Notre
Wisma Cinta Sesama Marganingsih Putri
Jl. Raya 105 Lasem Rembang
59271 Jawa Tengah Indonesia
Telp  0062 / 0295 – 531140
Fax 0062 / 0295 – 532075


Biara Sendang Asih Dengung Tridadi, Mlati, DI Yogyakarta

SND Provinsi Indonesia memulai karya baru di Denggung, Mlati, DI Yogyakarta pada 2 Februari 1975 dengan membuka biara baru yang diberi nama Biara Sendang Asih Dengung Tridadi atau Biara Santo Aloysius. Biara yang berpesta nama pelindung setiap 21 Juni ini berupaya melanjutkan misi penyelamatan Kristus sebagai dalam wadah kongregasi yang mendunia.  Terutama dengan mendayagunakan segala potensi transformatif dari segala bidang karya sehingga mimpi Allah akan dunia yang satu bisa terwujud.

Karya baru ini diawali dengan menempati rumah kontrakan milik Keluarga Bapak Suratman selama lebih kurang  satu tahun. Karya pertama yang disajikan adalah di bidang pendidikan. Beberapa sekolah seperti Sekolah Menengah Pertama Aloysius, Sekolah Tinggi Menengah Negeri, dan Sekolah Pendidikan Guru Aloysius mulai dibangun dengan Sr. Maria Klemensia, Alm. Sr. Maria Tekla, dan Sr. Maria Yakoba sebagai pemrakarsa.

Selain itu, mereka juga melayani karya pastoral care di wilayah Paroki Mlati, Sleman, Yogyakarta. Biara mencoba membaktikan diri  dalam pendidikan manusia seutuhnya bagi pribadi-pribadi yang di layani. Pengembangan dan pertumbuhan karya di komunitas ini dimulai dari pembangunan gedung SMP Santo Aloysius pada 22 Mei 1976. Sebelumnya, SMP Santo Aloysius ini merupakan milik Yayasan Papa Miskin yang diserahkan kepada Yayasan Santa Maria (Yayasan SND) pada 19 Januari 1976.

Sementara pembangunan Susteran dilaksanakan pada Juni 1976.  Penyerahan SPG Santo Agustinus milik Paroki Mlati kepada Kngregasi SND terjadi pada 7 Juli 1980 yang selanjutnya SPG ini dipindahkan ke Warak.

Pada tahun 1983, biara melebarkan sayap pada karya baru berupa pengelolaan SMA Santa Yulia. Sebelum diserahkan ke biara, SMA ini sempat dikelola oleh awam dengan nama SMA Kartika, tetapi mengalami kekuarangan dana. Maka lahirlah surat dari Kantor Wilayah Departeman Pendidikan dan Kebudayaan tentang pembubaran SMA Kartika  dan penyaluran murid-murid ke sekolah lain.

Kebaikan Tuhan terus menyertai karya kerasulan komunitas ini dengan memperoleh lagi izin untuk membuka SMU baru yang sekarang bernama SMU Santo Mikael di Warak, pada Juni 1984.  Untuk kelanjutan karya pendidikan, saat ini SPG Santo Agustinus diintegrasikan ke SMU St. Mikael, Mlati Sleman seiring dengan keluarnya SK dari Depdikbud No. 001/C/Kep/I/1987.

Karya Asrama bagi siswa siswi SMP Aloysius di Dengung dan SMU Santo Mikael  di Warak juga mewarnai karya para suster SND di wilayah Sleman hingga sekarang.Wajah-wajah baru terus bermunculan seiring perjalanan komunitas ini.

Peresmian SMP Santo  Aloysius juga telah dilakukan oleh Bupati Sleman dengan pemberkatan bangunan SMP yang baru pada 14 Agustus 1976 oleh Romo Vikjen yang mewakili Kardinal Yustinus Darmoyuwono yang kala itu berhalangan hadir. Pemberkatan sekaligus digelar untuk biara baru yang terletak bersebelahan dengan gedung SMP.

Keberadaan biara Sendang Asih Dengung Tridadi  didukung pula oleh kehadiran para suster yang belajar di Yogyakarta. Mereka terutama membantu dalam pastoral care.

Mempercayakan diri seutuhnya kepada Tuhan dan berharap segalanya dari kebaikan Allah yang maha baik senantiasa menyertai keberadaan komunitas ini dalam melanjutkan karya misi Kristus.

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai karya Biara Santo Aloysius ( Sendang Asih ) silahkan menghubungi :

Sr. Maria Asumta, SND
Suster – suster Notre Dame
Santo Aloysius ( Sendang Asih )
Denggung, Tridadi Sleman,
Yogyakarta 55511
Jawa Tengah Indonesia
Telp 0062 / 0274-868083

SISTERS OF NOTRE DAME “THE HOUSE OF FORMATION “
Berdiri pada Tahun 2006


Seiring bertambahnya umur Misi Philippines dengan cita-cita awal untuk memperoleh calon-calon SND Filipino, maka Sr Mary Sujita selaku Superior General mencoba memikirkan masa depan misi dan mengingatkan Provinsi Indonesia agar memulai langkah pembinaan  para calon serta mencari tempat yang cocok di Iloilo. Sr M.Sujita dengan persetujuan Sr M Yosefa kemudian meminta Sr M.Elisa untuk mencari tanah di Iloilo City bagi pendirian formation House yang berfungsi sebagai rumah transit para suster jika kemalaman di kota  dan tidak mungkin pulang ke Guimaras.


Proses pencarian tanah di Iloilo City dilaksanakan dengan bantuan Fr Leonardo Pestano (parish priest di Sibunag). Akhirnya Suster SND menadapatkan tanah seluas 496 meter persegi di baranggay Sta. Rosa, Mandurriao, Iloilo City. Pembelian tanah tidak dapat dilakukan oleh orang asing maka proses sertifikat tanah dilaksanakan dengan menggunakan nama Fr L. Pestano dengan persetujuan  Superior General.
Untuk sementara,  tanah atas nama Fr L. Pestano dihibahkan kepada Archbishop of Jaro (Archbishop N. Angel Lagdameo, DD) dengan syarat bahwa tanah tersebut dipakai untuk biara dan  kegiatan apostolat Sisters of Notre Dame (lihat Deed of Donation  alinea 5).


Alasannya pemrosesan tersebut karena kala itu kami termasuk orang asing yang tidak mempunyai hak milik. Sister of Notre Dame  belum terdaftar di Securities and Exchange Comission  (SEC)  atau departmen yang berperan melindungi harta kekayaan suatu institusi  di Philippines termasuk  milik orang asing.


Maka kami memproses surat-surat tersebut dengan bantuan pengacara Grace yang juga membantu Romo SCJ di Philippines. sejak  18 July 2006, kami telah terdaftar  di SEC. “HOW GOOD GOD IS“  Saint Julie Billiart 
Pada 10 Juni 2005 , peletakan batu pertama dilaksanakan oleh Archbishop N. Angel Lagdameo, DD , Fr Julius , Sr Susan, Ocarm. OL, Mrs. Pestano, Architect Gerald Chico, Sr Elisa dan Sr. Yosefa, serta para pekerja.
Proses pembangunan diperkirakan berlangsung selama 6 bulan bangunan. Sepanjang proses pembangunan, Sr M Yosefa bertanggung jawab untuk mengontrol pembangunan dan mengawasi tukang. Tiap hari suster pergi pulang  dengan rute Sibunag–Iloilo-Sibunag. 


Pada 31 Januari 2006, “The House of Formation” diberkati  oleh Archbishop N. Angel Lagdameo, DD melalui perayaan ekaristi yang dihadiri Sr M.Sujita, Sr M Virgo, Sr M.Klaudia, dan Sr M.Agata serta tamu undangan lain. Tamu  spesial berasal dari Cagayan de Oro, Mindanau  Fr Indra Pamungkas ,SCJ dengan dua gadis yang ingin masuk  SND  (Floramie dan Ellen).


Dengan demikian, terkabulah doa dan mimpi kami  untuk mendapatkan calon SND  di Philippines. Selanjutnya kelompok gadis-gadis lain pun berdatangan. Pada  10 Maret  2006  datang Maricor dan Angie  kemudian pada 4  September  Elionela Blasé dan Christine Comon. Penuhlah sudah rumah kami. Komunitas SND  pertama beranggotakan dua suster  yaitu Sr Maria Yosefa dan Sr Maria Valeria .

“Tuhan memanggil semua orang tetapi sedikit yang terpilih … Demikian juga proses panggilan para calon kami.

Pada  5 Desember 2006, Sr Yasinta memperkuat komunitas di Formation House dengan  menjadi Pemimpin Postulan Filipino yang pertama. Penerimaan postulan pertama berlangsung pada 8 Desember 2006. Mereka  adalah Floramie, Christine, and Elionela. Sepanjang masa postulant, dua calon gugur dan yang bertahan hanya Floramie.  Sr M.Yasinta pun harus pulang ke Indonesia pada Desember 2007 karena alasan kesehatan yang menyebabkan suster tidak mungkin bertahan tinggal di Philipines.


Pada  10 Januari 2007, Sr Maresa, SND datang dari Provinsi Chardon untuk menggantikan Sr M Yasinta sebagai pemimpin  Novis. Sr Maresa mempersiapkan Floramie untuk memasuki masa novisiat. Tepatnya pada 12 April 2007, postulant Floramie menerima busana biara dengan nama baru  Sr. JEAN–MARIE. Penerimaan busana biara dilaksanakan dalam perayaan ekaristi yang dipimpin oleh Fr Richard Pinongkos dengan  konselebrasi oleh para imam yang terdiri dari Fr Liam, Fr. Jaquest, Fr Elmo , Fr Indra  P, dan hadir beberapa tamu  serta  koor oleh guru NDA Sibunag.

“Tuhan masih minta lagi … tetapi.. Tuhan menyediakan  apa yang kita butuhkan “
Uskup Bataan juga mengundang SND untuk membuka Rumah  Retret dan Formation Hause. Maka pada  17 Juni 2007, kongregasi  SND  mermbuka novisiat International di Bataan yang beranggotakan  SND Chardon (sebagai formator) serta para novis  SND Philippines dan Vietnam.

“ Panenan banyak tetapi pekerja kurang …”
Inilah yang terjadi saat ini di Philippines. Kami tetap berusaha  untuk menjalin hubungan dengan para imam agar mendapatkan panggilan. Disamping  menjadi anggota Vocation promoter di keuskupan Jaro, kami juga partisipasi menggelar aksi panggilan di keuskupan lain. Semoga Tuhan mengirim para pemudi lewat orang-orang yang kami kenal.


Musibah banjir pada 22 Juni 2008 membuka mata dan hati para suster untuk lebih dekat pada umat dan umat pun mulai bersama dengan para suster. Para suster berkarya di bidang pastoral dan pewartaa serta terlibat di BEC (Basic Exclesial Community ) di paroki dan baranggay. Semua kegiatan gereja baranggay di pusatkan di SND Convent  dengan “Bahay kubo” di halaman.


Kegiatan yang dilaksanakan para suster antara lain : Tiap Sabtu ke dua menggelar misa baranggay di SND Convent, faith sharing tiap minggu, dan membentuk koor anak-anak. Sr M. Yosefa dan beberapa umat membentuk  kelompok doa “ COMMUNITY PRAYER of LAZARO“ untuk mendoakan orang meninggal hingga prosesi penguburan. SND masih mempunyai peluang lain yang dapat dilakukan untuk membina kaum muda maupun anak-anak dan keluarga muda disekitar kami.

Jika anda ingin mengetahui lebih lengkap tentang Komunitas Formation House, Iloilo City, Philippines, hubungi : 

SISTERS OF NOTRE DAME
THE HOUSE OF FORMATION
STA. ROSA  , MANDURRIAO
5000 – ILOILO CITY
PHILIPPINES
TEL. 00 53 33 321 10 25
E- mail : yosefasnd@yahoo.com


  [1]   [2]   [3]   [4]   [5]   [6]   [7]  
 
 

Website counter