Rumah Sakit Misi Kraton, Pekalongan

Berawal dari pembicaraan yang disampaikan oleh  Mgr. Visser pada tahun 1937 tentang keberadaan Rumah Sakit Bendan yang tidak memungkinkan lagi untuk diperluas guna memenuhi kebutuhan pasien yang bertambah banyak, maka Sr. Maria Wienand dan Sr. Maria Alfonsina berupaya keras mencari informasi tentang tata laksana dan pencarian tanah untuk rencana pembangunan rumah sakit baru tersebut.
 
Pada tahun 1939, pembangunan rumah sakit baru yang merupakan suatu proyek misi dimulai pada sebidang tanah yang dibeli dari sepuluh pemilik tanah. Tanah tersebut berlokasi di  sebelah barat kota, yaitu di Jalan. Bengawan yang sekarang terletak di Kraton, Pekalongan. Masyarakat selanjutnya menyebut sebagai Rumah Sakit Kraton. Pendanaan pembangunan rumah sakit misi tersebut sebagian besar berasal dari Eropa dengan tanpa bantuan pemerintah.
 
Pembangunan rumah sakit akhirnya selesai dan pemberkatan rumah sakit dilaksakan pada
28 Januari 1941 oleh Mgr. J.B. Visser, Prefek Purwokerto. Acara tersebut dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Kota Pekalongan dan tamu undangan. Rumah sakit  itu diberi nama Rumah Sakit Beatrix. Namun masyarakat terlanjur mengenalnya sebagai Rumah Sakit Kraton. Nama rumah sakit sempat diganti  menjadi Rumah Sakit Missi sebelum kemudian berganti nama,  Rumah Sakit Umum.

Pada 30 September 1940, rumah sakit dipindah ke Kraton dan seluruh pasien mulai dipindah dari Bendan ke Kraton pada 10 November 1940.
 
Perkembangan rumah sakit semakin pesat dengan bertambahnya jumlah pasien yang berobat. Namun Tuhan berkehendak lain. Pada 11 Agustus 1954,  Walikota Pekalongan melayangkan surat pemberitahuan kepada Sr. Maria Wienand sebagai pimpinan dan Sr. Maria Norberta yang menyatakan bahwa rumah sakit beserta seisinya, yaitu gedung bagian depan, pavilyun empat buah, dapur, tempat cucian, dan lain-lain telah diambil alih tanpa persetujuan dari pihak suster oleh Kotapraja Pekalongan.

Hingga saat ini, rumah sakit tersebut menjadi milik Kotapraja Pekalongan. Para suster hanya mendapat izin untuk menempati pavilyun di dekat rumah sakit tersebut yang sekarang menjadi rumah Susteran SND di Jalan Veteran 31 Pekalongan. Secara hukum, hak kepemilikan tanah rumah sakit tersebut masih menjadi milik Suster SND.

Selanjutnya, para suster bekerja di rumah sakit tersebut sebagai pegawai. Namun suasana rumah sakit yang semakin tidak menyenangkan akhirnya membuat para suster berhenti dan mengundurkan diri. Sr. Maria Magdalena menjadi suster terakhir sebelum berhenti dari jabatan sebagai kepala bagian bersalin.
 
Peristiwa tersebut ternyata tidak menghambat usaha para suster dalam memberikan pelayanan kesehatan. Dengan tekun dalam suka dan duka, para suster berusaha mendirikan rumah sakit kembali. Cita-cita ini akhirnya terwujud pada tahun 1965, yaitu dengan pembangunan sebuah Klinik Bersalin di Jalan Barito No. 5 Pekalongan yang terus berkembang dan kini telah menjadi Rumah Sakit Umum Budi Rahayu.

Rumah Sakit Budi Rahayu, Pekalongan

Kelahiran rumah sakit Budi Rahayu berawal dari pengambil alihan rumah sakit misi dengan nama Rumah Sakit Umum “Beatrix” oleh pemerintah Kota Praja Pekalongan pada 1 Maret 1951. Melihat peristiwa tersebut, para suster tidak pantang menyerah dalam pelayanan di bidang kesehatan. Mereka bahkan dengan tekun berusaha mendirikan kembali sebuah rumah sakit.
 
Cita-cita itu terlaksana pada 12 September 1966 dengan pembangunan sebuah klinik bersalin yang diberi nama Klinik Bersalin “Budi Rahayu”. Klinik yang diberkati oleh Uskup Purwokerto Mgr. Shoemaker, MSC ini berlokasi di Jalan Barito No. 5. Berkat kemauan keras dan semangat tinggi, akhirnya klinik itu berkembang menjadi Rumah Sakit Umum “Budi Rahayu” dan dikukuhkan dengan SK Menkes RI tertanggal 24 Maret 1975.
 
Membuka simpul-simpul kesulitan yang dihadapi oleh masyarakat yang membutuhkan mendorong RSU Budi Rahayu semakin meningkatkan pelayanan tahap demi tahap untuk membawa harapan dan penyembuhan bagi sesama yang membutuhkan.

Website : www.rsubudirahayu-pekalongan.com

 
 

Website counter